Menapaki Jabal Uhud: Kisah Perjalanan Penuh Makna, Debu, dan Kesabaran

Perjalanan menuju Jabal Uhud di utara Kota Madinah selalu menghadirkan kesan mendalam bagi setiap jamaah. Bukit berwarna kemerahan ini bukan hanya saksi sejarah Perang Uhud, tetapi juga tempat di mana banyak hati tergetar mengingat perjuangan para syuhada. Dari atas bus, hamparan padang pasir tampak luas, diselimuti debu halus dan hembusan angin kering khas gurun. Saat kaki menapaki jalur menanjak menuju puncak, rasa lelah seolah sirna oleh keharuan — di sinilah Rasulullah ﷺ pernah berdiri bersama para sahabatnya.

Di utara Kota Madinah, sekitar lima kilometer dari Masjid Nabawi, berdiri sebuah bukit bersejarah bernama Jabal Uhud. Bukit ini bukan sekadar tumpukan batu dan pasir — ia menjadi saksi bisu Perang Uhud, salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam.
Bagi jamaah Umrah, perjalanan menuju Jabal Uhud selalu menjadi momen yang menggetarkan hati. Bukan karena jaraknya, tetapi karena makna dan medan yang harus dilalui.

Perjalanan Menuju Uhud: Debu, Angin, dan Haru

Pagi itu, rombongan jamaah sudah berkumpul sejak pukul tujuh. Udara Madinah mulai menghangat, meski matahari belum sepenuhnya meninggi. Bus-bus besar mengantarkan rombongan menembus jalan berdebu menuju utara kota.
Dari kejauhan, tampak bukit berwarna kemerahan membentang — Jabal Uhud, bukit yang Rasulullah ﷺ cintai dan pernah bersabda:

“Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami mencintainya.”

Ketika bus berhenti, hembusan angin kering langsung menerpa wajah. Debu tipis berterbangan, menempel di kulit dan masuk ke hidung. Banyak jamaah secara refleks menutup hidung dengan tangan atau masker kain — tapi udara gurun cepat membuat napas terasa berat.

Salah satu jamaah perempuan tampak tenang, meski angin gurun semakin kencang. Hal ini karena ia sudah memeprsiapkan sejak dari tnah air, masker hidung yang modern, fashionalbe, karena tidak terlihat menutupi hidung melainkan dimasukkan ke lobang hidung. Masker tersebut adalah Nosk, yang dirancang untuk situasi seperti ini — udara kering, debu halus, dan perjalanan panjang di area terbuka, tetap cantik tanpa tertutup masker lebar.

Bentuknya kecil, transparan, dan nyaris tak terlihat saat dipakai.
Dengan filter ganda, Nosk mampu menyaring polusi, debu, dan aroma tidak sedap tanpa menghalangi napas.

Medan Uhud: Panas, Berpasir, dan Minim Toilet

Perjalanan dari area parkir ke bukit memakan waktu sekitar 10–15 menit berjalan kaki. Jalannya sedikit menanjak, berpasir, dan terbuka tanpa banyak tempat berteduh.
Beberapa jamaah — terutama lansia — tampak kepayahan menahan haus, bahkan sebagian mulai mencari toilet darurat. Tapi fasilitas di sekitar Uhud terbatas, apalagi di musim ramai.

Salah satu petugas travel quietly menawarkan solusi praktis yang mulai populer di kalangan jamaah wanita, yaitu sebuah kantung kecil yang revolusionair karena sangat membantu perempuan pada keadaan darurat seperti ini,

“Kalau darurat, kami bawa Peepees, alat kencing portabel untuk perempuan. Praktis banget kalau sedang di bus atau di lokasi seperti ini.”

Bayangkan harus menahan buang air kecil selama perjalanan panjang atau di lokasi ziarah yang toiletnya jauh.
Dengan Peepees, jamaah tak lagi cemas. Produk ini berbentuk kantung kencing higienis sekali pakai yang dapat digunakan dengan mudah, tanpa bocor, dan tanpa bau.

✅ Aman digunakan oleh wanita dan pria.
✅ Cocok untuk perjalanan jauh, macet di bus, atau area wisata yang minim fasilitas.
✅ Bisa dibuang dengan aman setelah digunakan.

Bagi banyak jamaah, Peepees menjadi penyelamat kecil yang membuat perjalanan tetap nyaman dan terhormat.

Baca juga

Luangkan waktu anda cukup untuk membaca artikel dan berita yang kami sajikan, untuk menambah wawasan dan referensi sebelum kunjungan wisata

LEGITIMASI

Menu Login ini khusus untuk member dan admni yang terdaftar pada Pusat Riyal.

Jika anda adalah user terdaftar, silakan memasukkan Kredensial anda